Bukan Sekadar Jabatan: Memaknai Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi_Oleh : Ummul Muqarramah

0 Comments

 


Nama LKM (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa) sendiri sebenarnya menjadi

alasan utama saya mengikuti kegiatan ini. Dari namanya saja, sudah terbayang kalau

kita pasti akan diberikan berbagai materi yang bermanfaat untuk menumbuhkan jiwa

kepemimpinan di dalam diri, entah itu bekal untuk memimpin sebuah organisasi

ataupun untuk memimpin diri sendiri.


Saat LKM berlangsung, ekspektasi saya benar-benar terjawab. Kami tidak

hanya diberikan materi seputar kepemimpinan dan cara menjalankan organisasi, tapi

ada juga materi tentang kearifan lokal kota Parepare, kemahasiswaan, retorika, lobi dan

negosiasi, serta banyak lagi. Selain materinya yang berbobot, para pematerinya juga

tak kalah luar biasa karena mereka pernah menjabat di BEM maupun MAPERWA.

Puncaknya adalah saat materi ke-HIPMI-PARE-an yang dibawakan langsung oleh

Ketua Umum HIPMI Pare.


Dari kedelapan materi yang dibawakan, ada satu yang paling menarik perhatian

saya, yaitu materi Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi. Materi ini menyadarkan

saya bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar soal menduduki posisi ketua organisasi.


Lebih dari itu, memimpin adalah tentang bagaimana kita bisa merangkul para anggota

agar bisa bergerak bersama demi menjalankan tujuan dari organisasi tersebut.

Berdasarkan materi Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi, dijelaskan

bahwa kepemimpinan berarti sebuah tindakan yang dilakukan seseorang untuk

memengaruhi orang lain atau anggotanya agar dapat mencapai tujuan organisasi.

Pemimpin yang baik adalah seseorang yang mampu menjalankan organisasi dengan

cara mendorong, merangkul, dan mendengarkan seluruh anggotanya. Sebab, mereka

semualah yang menjadi bagian penting demi keberlangsungan sebuah himpunan.


Pada saat pemberian materi, kami diberitahu bahwa terdapat tiga gaya

memimpin. Pertama adalah gaya otoriter di mana pengambilan keputusan seratus

persen berpusat pada pemimpin. Kedua adalah gaya demokratis di mana pemimpin

senantiasa melibatkan anggota dalam berdiskusi, meski keputusan akhir tetap di bawah

arahannya. Ketiga adalah laissez-faire di mana kebebasan dan pengambilan keputusan

diserahkan sepenuhnya kepada anggota organisasi. Kami juga ditekankan bahwa

seorang pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakteristik, seperti jujur,

disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, tegas, adil, logis, berintegritas, komunikatif,

dan lain-lain.


Melihat gaya kepemimpinan yang telah dibahas, menurut saya seorang

pemimpin yang baik untuk HIPMI Pare, selain memiliki karakteristik di atas, juga perlu

menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis. Seperti yang kita ketahui, HIPMI

Pare merupakan sebuah organisasi yang berbasis kekeluargaan. Sehingga, untuk

mencapai tujuan bersama, sangat dibutuhkan pemimpin yang mau merangkul dan

bermusyawarah dengan anggotanya.


Selain mampu memimpin, seorang pemimpin juga dituntut untuk bisa

memaksimalkan segala sumber daya yang ada secara efektif dan efisien melalui

manajemen yang baik. Mengingat di dalam sebuah organisasi terdapat begitu banyak

kepala yang harus disatukan, seorang pemimpin harus mampu menentukan target yang

ingin dicapai, membagi tugas secara adil, menggerakkan anggota untuk bekerja,

memantau jalannya tugas tersebut, serta mengevaluasi hasil akhirnya sebagai

pembelajaran di masa depan.


Dari seluruh materi ini, saya menjadi sadar akan kelebihan dan kekurangan saya

saat memimpin. Kelebihan saya biasanya terletak pada kemampuan menyusun dan

membagikan tugas kepada rekan tim, tetapi kadang saya masih kurang tegas dalam

merespons dan mengambil keputusan. Ke depannya, saya berkomitmen untuk

memperbaiki kekurangan tersebut agar bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Tidak

hanya dalam lingkup organisasi, tetapi juga untuk memimpin diri sendiri. Sebab, kalau

kita masih belum mampu memimpin diri sendiri, lantas bagaimana kita bisa memimpin

sebuah organisasi?


Setelah mendapat materi ini, komitmen perubahan yang ingin saya terapkan

adalah mulai berani keluar dari zona nyaman dan mengambil inisiatif. Saya tidak mau

lagi cuman sekadar ikut-ikutan atau menunggu instruksi. Saya juga ingin lebih disiplin,

berani mengambil tanggung jawab, dan belajar untuk tidak gampang ragu setiap kali

dihadapkan pada sebuah pilihan atau tugas.


Ke depannya, saya ingin membiasakan diri untuk lebih tanggap dengan

lingkungan sekitar dan berani speak up atau menyampaikan pendapat kalau memang

diperlukan. Selain itu, saya juga ingin pelan-pelan mulai membangun keakraban

dengan teman-teman seangkatan supaya kita bisa saling merangkul, dan tentunya juga

dengan kakak-kakak senior di atas saya.

hipmiparekomunm

Kritik dan Saran.

0 Comments: