AKTUALISASI NILAI KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN ORGANISASI DALAM MEMBENTUK KADER YANG KRITIS DAN BERTANGGUNG JAWAB_Oleh: Digita Febyola Sam
PENDAHULUAN
Kepemimpinan dan manajemen dalam organisasi saling berhubungan saat menjalankan sebuah
organisasi. Untuk mahasiswa, organisasi bukan hanya tempat berkumpul dan melakukan aktivitas,
tetapi juga tempat belajar tentang tanggung jawab, kerjasama, pengambilan keputusan, dan
menghadapi berbagai tantangan. Jadi, penting bagi saya sebagai mahasiswa dan sebagai kader
untuk memahami kepemimpinan dan manajemen dalam organisasi HIPMI PARE.
Sebelum saya mempelajari topik ini, saya sering berpikir bahwa pemimpin itu adalah orang yang
punya jabatan dan tugasnya mengatur anggota. Saya juga percaya bahwa keberhasilan organisasi
sangat bergantung pada kemampuan ketua dalam memberi arahan. Namun, setelah belajar lebih
dalam, saya menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi lebih kepada bagaimana seseorang mempengaruhi, mengarahkan, dan memotivasi orang lain agar bisa bersama-
sama meraih tujuan.
Dari pemahaman yang saya dapatkan, saya jadi bertanya-tanya: apakah seseorang yang punya
jabatan sebagai pemimpin pasti bisa memimpin dengan baik? Pertanyaan ini penting karena di
dalam organisasi, jabatan tidak selalu menjamin seseorang bisa mengelola anggota dengan baik,
menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang tepat. Kepemimpinan yang baik seharusnya
terlihat dari sikap dan tindakan yang nyata, bukan hanya dari posisi yang dipegang.
PEMBAHASAN
Kepemimpinan itu bisa dimaknai sebagai tindakan seseorang untuk membujuk orang lain agar
mau bekerja sama demi mencapai tujuan yang sama. Di sisi lain, pemimpin adalah orang yang
melakukan tugas ini, dan pimpinan adalah tempat atau posisi yang ada di dalam sebuah organisasi.
Dari sini, saya mengerti bahwa jadi pemimpin itu tidak hanya soal memberi perintah, tetapi juga
tentang bagaimana seseorang bisa membuat hubungan yang baik dengan anggota dan memimpin
mereka menuju tujuan yang telah disepakati.
Di dalam organisasi, pemimpin memiliki beberapa fungsi penting, seperti mengatur, memimpin,
menetapkan tujuan, menciptakan komunikasi, memotivasi anggota, memberikan semangat,
mengatasi masalah, dan mengambil keputusan. Tugas-tugas ini saling berhubungan karena sebuah
organisasi tidak akan berjalan lancar jika pemimpinnya hanya fokus pada pembagian tugas tanpa
memperhatikan komunikasi dan keadaan anggotanya.
Saya percaya bahwa salah satu hal yang paling penting dalam kepemimpinan adalah kemampuan
untuk berkomunikasi. Seorang pemimpin harus bisa memberikan arahan dengan jelas agar anggotanya mengerti tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Selain itu, pemimpin juga
harus mau mendengarkan pendapat dari anggota. Komunikasi yang baik bukan hanya tentang bisa
berbicara, tetapi juga tentang mau menerima saran dan memahami perbedaan pandangan.
Sebagai contoh, saat suatu rencana kerja tidak berjalan seperti yang diharapkan, seorang pemimpin
tidak seharusnya langsung menyalahkan anggota tim. Pemimpin harus mencari tahu apa yang
salah, mendengarkan penjelasan dari semua orang, dan membuat langkah perbaikan. Dengan cara
ini, masalah bisa diselesaikan dengan adil dan anggota bisa belajar dari kesalahan yang terjadi.
Namun, saya menyadari bahwa setiap pemimpin memiliki cara yang berbeda dalam melaksanakan
tanggung jawabnya. Ada pemimpin yang lebih suka mengambil keputusan sendiri, ada yang
mengajak anggota berdiskusi, dan ada yang memberi kebebasan kepada anggota untuk memilih
tindakan mereka sendiri. Perbedaan ini berkaitan dengan gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan yang pertama adalah otokratis, di mana pemimpin sangat dominan dalam
membuat keputusan. Dalam gaya ini, pemimpin memiliki kekuasaan penuh atas keputusan dan
pelaksanaan tugas. Menurut saya, gaya ini bisa berguna dalam situasi yang membutuhkan
keputusan cepat. Namun, jika digunakan terlalu sering, anggota bisa merasa kurang terlibat dan
hanya melakukan perintah tanpa memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Gaya kepemimpinan yang kedua adalah demokratis, yang artinya pemimpin melibatkan semua
anggota saat berdiskusi dan mengambil keputusan. Saya berpikir gaya ini bisa membantu setiap
orang merasa lebih terikat dengan organisasi karena mereka punya kesempatan untuk berbagi
pendapat. Namun, penting untuk tetap mengarahkan diskusi agar tidak berlangsung terlalu lama
dan keputusan bisa diambil tepat waktu.
Gaya kepemimpinan yang ketiga adalah laissez-faire, yang artinya pemimpin memberi kebebasan
besar kepada anggota saat menjalankan tugas. Gaya ini bisa memberi kesempatan bagi anggota
untuk mengasah kreativitas dan kemandirian. Tetapi, jika pemimpin tidak cukup memberikan
arahan dan pengawasan, pekerjaan bisa menjadi kacau dan anggota kesulitan mengatur tanggung
jawab mereka.
Dari ketiga gaya itu, saya menyadari tidak ada satu gaya kepemimpinan yang paling benar untuk
semua situasi. Pemimpin harus menyesuaikan cara mereka dengan keadaan, tujuan organisasi, dan
kemampuan anggotanya. Yang paling penting adalah pemimpin harus tetap menjaga tanggung
jawab, komunikasi, dan keterlibatan anggota sambil tidak melupakan tujuan organisasi.
Selain kepemimpinan, pengelolaan organisasi juga sangat penting dalam mencapai tujuan yang
diinginkan bersama. Dari materi yang saya terima saat LKM, ada lima fungsi manajemen yang
dikenal dengan istilah POACE, yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengawasan,
dan Evaluasi. Semua fungsi ini saling berhubungan dan sangat dibutuhkan agar organisasi bisa
berjalan dengan baik. Perencanaan adalah langkah untuk menentukan tujuan dan membuat rencana kerja. Pengorganisasian dilakukan dengan cara membagi tugas dan menetapkan tanggung jawab masing-
masing anggota. Selanjutnya, Pelaksanaan adalah proses di mana anggota diadakan untuk melakukan tugas sesuai rencana. Pengawasan bertujuan untuk memastikan semua kegiatan
berjalan sesuai tujuan, sementara Evaluasi dilakukan untuk menilai hasil kegiatan, mencari
kekurangan, dan menentukan perbaikan untuk kegiatan yang akan datang.
Menurut saya, kelima fungsi ini tidak hanya perlu dipahami di atas kertas, tetapi juga harus
diterapkan dalam kehidupan organisasi sehari-hari. Misalnya, ketika organisasi ingin
melaksanakan sebuah acara, anggota harus membuat rencana yang jelas, membagi tugas sesuai
dengan kemampuan masing-masing, melaksanakan kegiatan dengan penuh tanggung jawab,
mengawasi prosesnya, dan melakukan evaluasi setelah acara selesai.
Saya sadar bahwa kegiatan dalam organisasi seringkali tidak sesuai dengan rencana. Kadang-
kadang ada anggota yang tidak melakukan tugasnya, rencana berubah, atau komunikasi terganggu.
Maka dari itu, penggunaan POACE bisa membantu organisasi untuk menghadapi masalah-
masalah ini dengan lebih teratur. Evaluasi juga sangat penting agar kesalahan yang sama tidak terulang, dan setiap anggota bisa belajar dari pengalaman yang lalu.
Menurut saya, keberhasilan dalam mengelola organisasi tidak hanya dilihat dari pelaksanaan
kegiatan, tetapi juga dari bagaimana prosesnya berjalan, seberapa baik anggota menjalankan
tanggung jawabnya, dan bagaimana organisasi bisa memperbaiki kekurangan yang ada. Dengan
menggunakan POACE dengan benar, organisasi dapat beroperasi dengan lebih efisien, terfokus,
dan penuh tanggung jawab.
Selain memahami peran manajemen, saya juga menyadari bahwa kesuksesan suatu organisasi
tidak hanya bergantung pada cara kerja yang teratur, tetapi juga kualitas kepemimpinan seseorang.
Seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur, bertanggung jawab, adil, disiplin, percaya diri, dan
berani mengambil keputusan. Sifat-sifat ini sangat penting karena pemimpin adalah orang yang
memberi arah dan menjadi contoh bagi anggota dalam melakukan aktivitas organisasi.
Menurut saya, pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu benar atau tidak pernah salah.
Sebaliknya, pemimpin yang baik adalah orang yang berani mengakui kesalahannya, menerima
kritik, dan mau memperbaiki diri. Dalam suatu organisasi, sering kali ada pemimpin yang merasa
bahwa posisinya membuat pendapatnya harus selalu diikuti. Namun, keputusan yang baik
seharusnya didasarkan pada pertimbangan yang matang, dan bukan hanya karena seseorang
memiliki jabatan yang lebih tinggi. Hal ini membuat saya berpikir bahwa kepemimpinan tidak
hanya tentang bagaimana cara seseorang mengatur orang lain, tetapi juga tentang bagaimana ia
bisa mengendalikan dirinya sendiri. Pemimpin perlu belajar untuk mendengarkan, menghargai
perbedaan pendapat, dan menyelesaikan masalah tanpa mengutamakan kepentingan pribadi.
Dengan begitu, anggota dapat merasa dihargai dan lebih percaya untuk bekerja sama dalam
mencapai tujuan organisasi.
Sebagai mahasiswa dan anggota organisasi, saya mengerti bahwa tanggung jawab bukan cuma ada
di pundak ketua atau pengurus utama, tetapi juga harus dipikul oleh setiap anggota. Keberhasilan
sebuah acara bergantung pada kolaborasi dan kesadaran setiap orang untuk melakukan tugas
masing-masing. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk menjadi anggota yang disiplin, aktif,
bertanggung jawab, dan berani berpendapat dengan cara yang baik.
Saya juga perlu melihat diri saya sendiri. Apakah saya telah melakukan tugas dengan serius?
Apakah saya bisa menerima kritik tanpa merasa sakit hati? Apakah saya berani mengakui
kesalahan jika saya tidak melaksanakan tanggung jawab dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan itu
membantu saya menyadari bahwa belajar untuk memimpin tidak perlu menunggu sampai kita
mendapat jabatan. Keterampilan memimpin bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti menepati janji,
menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, membantu anggota lainnya, dan bertanggung jawab atas
perbuatan sendiri.
PENUTUP
Dari semua yang saya pelajari tentang kepemimpinan dan manajemen organisasi, saya menyadari
bahwa suksesnya sebuah organisasi tidak hanya tergantung pada pemimpin yang memiliki posisi
tinggi. Namun, itu juga bergantung pada kemampuan pemimpin dan anggota tim untuk
bekerjasama, berkomunikasi, membuat keputusan, dan menjalankan tanggung jawab mereka
masing-masing. Kepemimpinan yang baik harus didukung dengan manajemen yang teratur supaya
tujuan organisasi bisa tercapai.
Saya juga mengerti betapa pentingnya penggunaan fungsi manajemen yang dikenal sebagai
POACE, yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengendalian, dan Evaluasi. Lima
fungsi ini sangat membantu organisasi, mulai dari merencanakan, membagikan tugas, melakukan
kegiatan, melakukan pengawasan, hingga mengevaluasi hasil yang telah dicapai. Dengan
menerapkan fungsi-fungsi ini, organisasi dapat melihat kekurangan dan memperbaiki untuk
kegiatan yang akan datang.
Dari materi ini, saya belajar bahwa menjadi pemimpin itu tidak hanya tentang memberi perintah,
tetapi juga tentang memberikan contoh, mendengarkan anggota, dan berani bertanggung jawab
atas keputusan yang dibuat. Saya ingin menerapkan pemahaman ini dalam perkuliahan dan
organisasi dengan menjadi orang yang lebih disiplin, terbuka terhadap kritik, mampu bekerja sama,
dan tidak mudah lari dari tanggung jawab.
Bagi saya, organisasi adalah tempat untuk belajar dan tumbuh. Oleh karena itu, saya tidak ingin
hanya menjadi anggota yang hadir saat ada acara, tetapi juga ingin menjadi seseorang yang bisa
memberikan sumbangan yang berarti. Saya meyakini bahwa organisasi dapat maju jika setiap
anggotanya sadar untuk belajar, meningkatkan diri, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan
bersama.
.png)

0 Comments: