Seniman tradisi termarginalkan, seni pertunjukan tradisi menjadi minoritas di industri kreatif

0 Comments

 


Kenapa seni pertunjukan, khususnya di ranah tradisi, selalu termarginalkan di kota-kota Sulawesi Selatan, terutama di Kota Parepare? Seni tradisi kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Pemerintah dan pihak penyelenggara sering berusaha menggarap event-event bernuansa tradisi, namun dikerjakan begitu saja tanpa memperhatikan unsur-unsur penting yang menopang karakter seni pertunjukan tradisi itu sendiri. Seolah hanya untuk menggugurkan tanggung jawab dan memperlihatkan bahwa kota kita “tetap peduli” terhadap tradisi.

Belum ada upaya nyata untuk memerdekakan seniman tradisi di Kota Cinta ini. Pemerintah tampaknya berpandangan bahwa tidak perlu menggelontorkan anggaran besar hanya untuk sekadar pertunjukan tradisi yang dianggap tidak berdampak signifikan terhadap keberhasilan rencana strategis kota. Belum lagi para pelaku musik tradisi yang jarang mendapat sorotan dari framing media sosial.

Apa yang membuat semua ini terjadi? Apakah sumber daya manusia yang kurang mumpuni? Ataukah pemerintah yang kurang mengayomi dan peduli?

Saya merasa seharusnya tergerak untuk mendorong perkembangan kesenian tradisi di Kota Parepare dengan sedikit pengetahuan yang saya miliki tentang disiplin ilmu tersebut.

Seniman tradisi adalah bagian dari pelaku industri kreatif lainnya. Mereka seharusnya memiliki tempat dan ruang untuk berkembang, bukan justru dimarginalkan seakan-akan tidak berdampak pada pembangunan sumber daya kota.

Sipakatau, Sipakainge, Sipakamase

Penulis :Alifaturrahman.A

hipmipareunm

Kritik dan Saran.

0 Comments: