Fenomena Meningkatnya Kasus Anak yang Menjalani Cuci Darah di Indonesia

0 Comments

 


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka—sehat, bahagia, dan bebas dari segala penyakit. Namun, kenyataan hidup kadang membawa kita pada situasi yang tak terduga. Salah satunya adalah ketika seorang anak harus menjalani prosedur medis yang berat, seperti cuci darah. Proses ini bukan hanya menantang bagi anak yang menjalaninya, tetapi juga bagi seluruh keluarga yang mendampinginya. Cuci darah atau hemodialisis adalah prosedur yang digunakan untuk mengeluarkan limbah dan cairan berlebih dari darah ketika ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Meskipun prosedur ini lebih umum dikenal sebagai bagian dari perawatan orang dewasa, anak-anak juga dapat membutuhkannya akibat berbagai kondisi medis seperti penyakit ginjal kronis, gagal ginjal akut, atau kelainan bawaan. Bagi seorang anak, menjalani cuci darah berarti menghadapi perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas bermain, belajar, dan bersosialisasi yang seharusnya menjadi bagian dari masa kanak-kanak, kini harus disesuaikan dengan jadwal rutin di rumah sakit. Selain itu, mereka harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang datang bersama prosedur medis yang intensif. 
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena meningkatnya jumlah anak-anak yang harus menjalani cuci darah menjadi perhatian serius di Indonesia. Proses cuci darah atau hemodialisis, yang biasanya dikaitkan dengan perawatan orang dewasa, kini semakin banyak dilakukan pada anak-anak. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan tenaga medis mengenai penyebab dan dampak dari peningkatan ini.
Anak-anak yang menjalani cuci darah seringkali didiagnosis dengan kondisi serius seperti penyakit ginjal kronis, gagal ginjal akut, atau kelainan bawaan yang mengganggu fungsi ginjal. Faktor-faktor lingkungan, pola makan, serta akses terhadap perawatan kesehatan yang memadai juga berperan dalam meningkatnya angka ini. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga membawa beban emosional dan finansial yang signifikan bagi keluarga mereka.

Penjelasan dokter RSCM


       Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi RSCM, Eka Laksmi Hidayati mengungkapkan, pihaknya mengetahui adanya informasi yang menyebutkan jika banyak pasien anak yang cuci darah di RSCM. Namun menurutnya, jumlah pasien anak yang menjalani perawatan cuci darah di RSCM tidak mengalami lonjakan. "Memang kalau dilihat angkanya, pasien kita cukup banyak," ujar Eka dalam siaran langsung akun Instagram @rscm.official, Kamis (25/7/2024).
      Eka mengungkapkan, RSCM memiliki total 60 anak yang rutin menjalani prosedur dialisis untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun, tidak semua anak tersebut menjalani cuci darah. Di antara 60 pasien, sebanyak 30 anak harus menjalani cuci darah. Tetapi, ada juga anak yang menggunakan dialisis dengan mesin atau hanya kontrol per bulan.“Selain karena kelainan bawaan, gagal ginjal pada anak juga bisa disebabkan karena obesitas. Obesitas bisa disebabkan karena gaya hidup salah satunya pola makan tidak sehat. Sering mengkonsumsi minuman manis berkemasan, makanan cepat saji, dan makanan berkalori tinggi,”imbuh Ira.Anak cuci darah bisa sembuh Eka menurutkan, anak dengan fungsi ginjal yang belum turun hingga 15 persen maka belum perlu cuci darah dan baru akan menjalani terapi lebih dulu. Namun jika fungsi ginjalnya turun, pasien anak akan menjalani prosedur dialisis berupa hemodialisis atau cuci darah dengan mesin, Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau dialisis lewat perut, serta transplantasi ginjal.Eka menyebutkan, anak dapat menjalani cuci darah karena menderita gagal ginjal kronis atau gagal ginjal akut. "Pada pasien gagal ginjal akut, anak bisa kembali normal. Pasien yang sudah menjalani terapi dan cuci darah, saat ini mereka sudah sehat dan tidak perlu menjalani cuci darah," jelasnya.Gagal ginjal akut merupakan kerusakan ginjal dalam waktu tiba-tiba atau cepat. Penyebabnya seperti infeksi atau tubuh kehilangan cairan dalam waktu cepat. Kondisi ini dapat disembuhkan hingga normal jika penyebabnya diatasi.Meski begitu, lanjut Eka, ada pasien anak gagal ginjal akut yang tetap perlu menjalani cuci darah dalam jangka waktu panjang.
     Sebaliknya, dia menambahkan, pasien anak dengan gagal ginjal kronis yang penyebabnya permanen seperti kelainan bawaan maka perlu menjalani prosedur cuci darah atau dialisis lainnya secara rutin."Pasien gagal ginjal kronis karena kelainan bawaan yang tidak merespons obat atau ginjalnya mengecil tidak bisa lagi kembali normal (sehingga harus rutin menjalani dialisis) atau lebih baik lagi perlu transplantasi ginjal untuk memperbaiki kualitas hidupnya," jelasnya.Terkait pemicu anak-anak sampai cuci darah atau hemodialisis, dr Eka menyebut banyak yang dipicu kelainan bawaan. Terbanyak kasus penyakit ginjal pada anak dipicu sindrom nefrotik.Selain itu, kelainan bawaan berupa bentuk ginjal yang tak normal juga menjadi pemicu adanya kasus cuci darah pada anak. Ada juga anak yang mengalami kista ginjal sehingga harus cuci darah."Yang berupa fungsi paling sering adalah sindrom nefrotik kongenital. Banyak pasien sindrom nefrotik lain tidak mengalami gagal ginjal. jadi umumnya tidak sampai menyebabkan penurunan fungsi ginjal, tapi kalau terjadinya kongenital sejak dari kandungan dan saat lahir sudah bergejala, itu umumnya akan menjadi gagal ginjal," kata dr Eka."Kemudian kelainan berupa bentuk itu misalnya ginjalnya isinya kista atau kita sebut ginjal polikistik. Jadi tidak ada jaringan yang sehat, atau jaringan sehatnya sudah habis karena ginjalnya berisi kista-kista sehingga dia tidak bisa berfungsi. Itu bisa sejak dini meskipun tidak segera lahir. Tapi dia bisa tumbuh beberapa saat, kemudian pada saat balita sudah mengalami gagal ginjal dan harus melakukan dialisis," imbuhnya lagi.

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya Ira Purnamasari

    Menjelaskan, ginjal merupakan organ yang berfungsi dalam proses penyaringan hasil metabolisme dan akan membuang zat-zat yang tidak diperlukan tubuh melalui proses pembentukan urine.“Gagal ginjal merupakan kondisi saat terjadi penurunan fungsi ginjal dalam menyaring limbah hasil metabolisme dan membuang racun. Sisa-sisa metabolisme yang seharusnya dikeluarkan oleh sistem kemih akhirnya menumpuk di ginjal, yang dalam jangka panjang akan mengakibatkan gagal ginjal,”ujar Ira dilansir dari situs UM Surabaya pada Selasa, 30 Juli 2024.

     Ira yang juga dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) mengatakan, kebanyakan penyebab kasus gagal ginjal yang terjadi pada anak-anak yang menjalani cuci darah adalah kelainan kongenital atau kelainan bawaan sejak lahir. Pemicu paling banyak adalah sindrom nefrotik, dan bentuk ginjal yang abnormal seperti bentuk ginjal yang kecil dan kista ginjal. Meningkatnya kasus anak remaja yang menjalani cuci darah di Indonesia merupakan fenomena yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Peningkatan ini mengindikasikan perlunya tindakan lebih lanjut dalam hal pencegahan, deteksi dini, dan perawatan penyakit ginjal di kalangan anak-anak dan remaja. Penyakit ginjal tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik mereka, tetapi juga membawa dampak emosional dan sosial yang signifikan, baik bagi para remaja itu sendiri maupun keluarga mereka.Untuk mengatasi masalah ini, langkah-langkah preventif seperti edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak usia dini harus ditingkatkan. Pemerintah dan organisasi kesehatan perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik terhadap fasilitas medis, terutama di daerah-daerah terpencil. Program-program pemeriksaan kesehatan rutin di sekolah-sekolah juga dapat membantu dalam deteksi dini kondisi ginjal yang berpotensi berkembang menjadi masalah serius. Dukungan sosial dan psikologis bagi anak remaja yang menjalani cuci darah dan keluarga mereka juga sangat penting. Mereka membutuhkan lingkungan yang memahami dan mendukung, agar dapat menghadapi tantangan ini dengan lebih baik. Komunitas dan kelompok pendukung dapat memainkan peran kunci dalam memberikan informasi, dukungan emosional, dan berbagi pengalaman.
    Melalui upaya kolektif yang melibatkan pemerintah, tenaga medis, sekolah, dan masyarakat, kita dapat berharap untuk melihat penurunan dalam kasus penyakit ginjal yang memerlukan cuci darah pada anak-anak dan remaja. Investasi dalam kesehatan anak-anak adalah investasi dalam masa depan bangsa. Dengan perhatian dan tindakan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang tumbuh sehat, kuat, dan bebas dari penyakit yang membatasi potensi mereka.Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan ginjal dan mendukung mereka yang terdampak adalah langkah awal menuju perubahan positif. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak kita, di mana mereka dapat menikmati masa muda mereka dengan kesehatan yang optimal dan masa depan yang cerah.

 

hipmipareunm

Kritik dan Saran.

0 Comments: